Wanita itu HEBAT, wanita itu KUAT..

Kau hanya cukup meyakini bahwa kau punya keyakinan. Kau hanya cukup menguatkan keyakinan itu , bahwa kau punya kekuatan...

Sunday, August 4, 2013

KENALKAN AKU PADA KETULUSAN


Tulus itu adalah ketika kau peduli pada orang yang kau sayangi
Tulus itu berarti peduli pada setiap hal tentang orang yang kau sayangi
Tulus itu tertarik untuk mengetahui lebih tentang orang yang kau sayangi
Tulus itu juga bersabar, sabar dalam hal menunggu rasa sayangmu terbalas
Tulus itu juga ikhlas, ikhlas dalam berbuat yang terbaik untuk orang yang kau sayangi

Ketulusan hati itu terpancar lewat bola matamu
bola mata yang memancarkan ketulusan terdalam
Ketulusan itu kepedulian
berkali-kali aku katakan bahwa ketulusan itu adalah peduli
peduli pada setiap hal tentang orang yang kau sayangi
kau tertarik untuk mengetahui lebih darinya
kau selalu menunjukkan kepedulianmu padanya
bukan karena diminta untuk peduli.. bukan, sungguh bukan seperti itu

Belajarlah tentang ketulusan,
rasakan dalam aliran darahmu, getar ketulusan setiap kali kau berucap tulus
ketulusan itu tidak peduli dengan apa yang akan kau terima setelahnya
ketulusan itu tidak peduli meski ia tak terbalaskan
ketulusan itu tidak peduli dengan rasa yang menyesakkan
ketulusan itu indah ketika kau benar-benar tulus
ketulusan itu berwarna ketika kau ikhlas mengenalnya

temui aku, ketika kau siap mengenalkan ketulusan yang aku jabarkan ..
kenalkan aku pada ketulusan itu..



Friday, June 14, 2013

WAKTU TIDAK AKAN PERNAH MENUNGGU

Apapun yang kau rasakan saat ini, sedih, bahagia, apapun itu.. yang harus kau tahu "waktu tidak akan pernah menunggu". Waktu terus berjalan , beranjak meninggalkan mu. Ia tidak akan pernah menunggumu merangkai kembali kepingan hati yang terluka. Ia tidak akan pernah menunggu mu memulihkan luka jiwa. Ia akan berjalan perlahan, hingga menghilang dari pandangan kepedihanmu. Ia tidak akan pernah peduli ketika kau memohon dan berkata,

 "Heiii , sang waktu.. tunggulah aku untuk beberapa saat saja, aku hanya ingin memulihkan lukaku, kemudian aku akan ikut bersamamu menjelang hari depan yang bahagia".

"Kau ingin menyembuhkan lukamu ? berapa lama ? dan apa yang akan kaulakukan selama menunggu luka sembuh ? "

"Entahlah, tapi aku berjanji tidak akan berlama-lama memelihara luka ini.."

"berapa lama ?"

"Entahlah .."

"Dengar..!!! Aku tidak akan pernah menunggumu, tetaplah kau dengan lukamu, aku akan tetap beranjak meninggalkanmu"

"Kau tega, heii waktu.."

"Dengar..!!! Apa kau tidak bisa melangkah bersamaku ? tetaplah kau dengan lukamu, dia akan sembuh dengan sendirinya ketika kau melangkah. Kau akan melihat hal baru , pemandangan kehidupan yang baru, janji-janji kehidupan yang tak pernah ingkar, apa kau mengerti ?"

"Aku mengerti, tapi apa aku bisa ? apa aku mampu ?"

"Dengar..!!! satu hal yang harus kau tanamkan dalam dirimu, bahwa apa yang dapat kau ucapkan, Apa yang mampu kau sampaikan, dapat juga kau wujudkan. Percaya padaku.."

Silahkan sekarang kau terpaku, dan tertunduk malu, serta tertawalah dalam hati, bahkan tertawalah dengan suara kencang, tertawalah untuk dirimu, dirimu yang sibuk dan menganggap waktu akan menunggumu..


Tuesday, June 11, 2013

NADA dan MELODI


Malam ini sepertinya sendiri, tanpa bintang ataupun bulan yang meneranginya. Begitu gelap, seakan ia tenggelam dalam kegelapannya, dan memaksaku tenggelam bersamanya. Tiba – tiba aku teringat kalimat “yang satu adalah sahabat ku, dan satu lagi adalah cintaku, jikapun ada yang harus jadi korban, itu adalah aku”, itu adalah kalimat yang di ucapkan pemeran Raj pada Tina dan Pooja, dalam sebuah film yang menguras airmataku beberapa tahun yang lalu. Tina yang merasa menjadi cinta dari Raj, tersenyum manis saat itu, dan jelas terlihat di mata Raj tersimpan luka yang begitu dalam, ketika keadaan memaksanya untuk menyimpan perasaannya yang sebenarnya mencintai Pooja. Bagaimana dengan Pooja ? dia juga terluka, pastinya. Saat keadaan memaksanya untuk menyimpan semua perasaannya terhadap Raj, karna dia sendiri yang memberikan kesempatan untuk Raj dan Tina dipertemukan. Rumit ? iya, bahkan sangat. Pooja juga tidak mungkin tega menyakiti hati sahabatnya.
Perasaan adalah perasaan, ia mutlak punya tempat tersendiri. Dan ia berbeda dengan logika, logika adalah urusan pikiran, urusan otak, urusan pikir memikir, sementara perasaan adalah urusan hati, urusan merasa, perasa, merasakan. Yang aku tau, kita tidak bisa selalu mengandalkan perasaan, namun juga tidak bisa selalu mengandalkan logika. Dan yang aku tau, ketika logika tak lagi bisa meyakinkan diri, maka perasaan lah yang akan maju dan pegang kendali atas diri seseorang.
Lalu bagaimana dengan pembatas, batasan, membatasi, bagiku pembatas adalah pemisah, memisahkan , bagi kalian semua juga pasti begitu. Batas adalah pemisah antara sisi kanan dan sisi kiri, jika tak ada batas, maka sisi kanan dan sisi kiri akan lebih leluasa berdampingan.
                Nada, seorang wanita dengan segudang cerita, cerita bahagia, sedih,bahkan menyesakkan. Hari itu Nada dikenalkan Melodi pada sahabatnya yang bernama Aldo. Aldo adalah teman kecil Melodi, mereka adalah sahabat kecil yang hingga kini masih bersahabat, begitulah yang dinamakan sahabat sebenarnya, tidak ada batasan waktu, tidak terhalangi jarak. Tidak ada yang istimewa pada pertemuan sore itu, semua berjalan biasa saja, perkenalan, makan bersama, berbagi cerita, hingga saatnya pulang dan beristirahat di rumah masing-masing. Namun ada satu hal yang biasa disebut kebetulan, kebetulan Nada berasal dari daerah yang sama dengan daerah asal Aldo, bahkan menurut cerita mereka berasal dari desa yang sama, namun memang tidak saling kenal, karena Aldo lahir dan besar diluar daerah asalnya. Saling bertukar nomor telepon, untuk kemudian sama sekali tidak pernah ada komunikasi antara Nada dan Aldo.
                Satu bulan berlalu, ketika Nada mengajak Melodi untuk ikut bersamanya , menghabiskan waktu libur di desa kelahirannya, Aldo pun muncul dan dari sana lah komunikasi antara Nada dan Aldo dimulai. Saling berbagi cerita tentang kisah hidup yang telah berlalu. Di ruang komunikasi yang berbeda, Aldo meminta Melodi untuk menyerahkan sebuah titipan untuk tantenya yang tinggal di desa kelahiran Nada. Ketika Melodi menyampaikan hal itu pada Nada, dengan senang hati Nada menyatakan kesediaannya untuk ikut menyerahkan titipan tersebut. Karena jika benar alamat yang diberitahukan Aldo, itu tidak jauh dari rumah Nada, bahkan bisa dijangkau dengan berjalan kaki 10 hingga 15 menit.
                “Sebenarnya titipan itu hanya sebagai alasan untuk kamu bisa bertemu dengan tantenya, Nad” aku Melodi pada Nada, “coba baca deh”, titipan itu sebenarnya nggak begitu penting, yang penting adalah Nada bisa bertemu Tante Ratna, jika memang jodoh artinya rejeki, namun jika tidak ya tidak masalah, tapi pastikan dulu bahwa Nada bisa menerima aku, kalau sampai tante dan keluargaku setuju, dan Nada ternyata menolak, bisa jadi masalah untukku, “  canda Aldo dalam pesan singkat itu.
                Nada terlanjur mengandalkan perasaan saat itu, semua yang dia rasakan murni hasil dari perasaan, dan tanpa campur tangan logika. Seakan semua kalimat itu nyata, dan benar adanya. Jika diartikan dalam bahasa gaul saat ini , kira-kira bisa disebut ke GeEr an. Entahlah  apa yang akan terjadi nanti, yang dia tau saat itu perasaannya benar, benar berharap dan terlanjur berharap. Sejak saat itu komunikasi antara Nada dan Aldo memang berjalan hampir setiap hari, mereka saling bercerita, bercanda, tertawa. Nada, Melodi dan Aldo sering bergabung dalam sebuah ruang chat dimana mereka bertiga bisa tertawa bersama, bercanda , bahkan saling ejek untuk menambah keramaian ruang chat itu. Diluar itu Melodi sering berkirim pesan hanya antara dia dan Aldo, Nada hanya biasa saja melihat pemandangan seperti itu, karena memang Melodi adalah sahabat Aldo, dan Melodi tidak mungkin salah memilih orang untuk ia kenalkan pada Nada yang tidak lain adalah sahabatnya.
                Seringkali Nada yang penuh harap , menunggu balasan pesan singkat dari Aldo menyaksikan pesan dari Melodi lah yang didahulukan, dan untuk setiap hal yang menurut Aldo butuh untuk diputuskan selalu melalui Melodi, dan kembali lagi bahwa Melodi adalah sahabat kecilnya Aldo, maka hal itu adalah wajar. Tidak mungkin Nada yang baru dikenal Aldo bisa begitu dekat dengan Aldo mengalahkan kedekatan Melodi dengan Aldo. Nada lagi-lagi menganggap hal itu adalah biasa saja, karena memang biasa saja, menurutku. Sayangnya Nada tidak peka sejak awal, hingga ketidakpekaan itu menjadi sumber kesakitannya pada beberapa bulan berikutnya.

........................................................................................................................Bersambung

Monday, April 15, 2013

Penerbangan ISTIMEWA di ketinggian 36.000 kaki


Penerbangan malam ini sama seperti penerbangan sebelumnya, dimana aku beserta rekan kerja lainnya harus rela tidak tidur untuk menjalankan tugas sebagai pramugari di salah satu perusahaan penerbangan.
“Mbak, nanti ada special passenger ya. Seorang wanita, berusia 33 tahun. Memiliki kelainan jiwa, namun dapat dipastikan tidak akan mengganggu selama penerbangan berlangsung, karena sudah mendapat ijin dan surat keterangan dari dokter yang menanganinya, serta sudah di cek oleh dokter bandara”
“baik, saya akan membicarakan ini pada kapten,” jawab senior ku..

Maka dengan surat dari dokter dan atas pertimbangan kapten , penumpang yang dimaksud dapat diberangkatkan dengan prosedur yang sudah ada.

“Passengers coming” demikian informasi yang diberikan oleh senior ku. Maka segeralah dua orang rekan kerja ku mengambil posisi boarding di tengah kabin pesawat. Kebetulan saat itu aku bertugas untuk berdiri di pintu masuk pesawat bagian belakang sambil memberi salam pada penumpang yang masuk ke pesawat melalui pintu belakang. Melihat penumpang pertamaku saat itu, langsung saja pikiranku melayang pada penumpang yang dimaksudkan oleh petugas darat kami. Benar saja, seorang wanita berusia 33 tahun itu masuk ke pesawat, dengan mengenakan celana berwarna hitam dan atasan coklat, serta memakai kacamata hitam. Beliau tersenyum padaku, seperti tidak ada yang salah pada dirinya.
Segera aku menghampiri petugas darat yang berjalan tepat dibelakang wanita itu.

“mas, itu penumpangnya ?”
“iya mbak, pendampingnya ada  empat orang”
“baiklah, terima kasih”

Proses boarding saat itu beralan lancar, hingga penumpang dinyatakan komplit, dan akhirnya kapten memberikan command untuk segera menutup pintu pesawat.

Setelah pintu pesawat ditutup, kami semua  menjalankan semua prosedur seperti biasanya, hingga pesawat lepas landas dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan, sebagai tanda bahwa kami dan penumpang boleh melakukan aktifitas untuk service, penumpang yang ingin ke kamarkecil , dan sebagainya.

Sekali dua kali aku melemparkan pandangan pada wanita malang itu, dia pun tersenyum dan berkata “kamu cantik, sama seperti anak saya”. Kalimat yang sama dia ucapkan saat aku atau rekan kerjaku lainnya lewat di depannya.
Kami memperlakukan wanita malang itu sama seperti memperlakukan penumpang lainnya, karena memang sepertinya tidak ada yang salah padanya. Hanya saja beliau sering bertingkah seperti anak-anak ketika meminta permen setiap kali kami lewat didepannya,. Pada saat aku dan rekan ku membagikan makanan utama saat itu, beliau langsung mengeluarkan kalimat “saya mau makan” , sehingga kami pun tidak perlu menunggu untuk memberikan makanannya, segera kami berikan makanan untuknya, walaupun memang saat itu belum sampai pada barisan tempat duduknya.
Beberapa saat setelah itu, kami pun sampai di barisan tempat duduk wanita tersebut, bermaksud untuk membagikan makanan pada pendampingnya yang berjumlah empat orang. Dan kalian tahu apa yang terjadi ? dia merebut makanan itu dan segera membuka tempat makanan untuk dinikmatinya. Pendampingnya yang tidak lain adalah tetangganya, pun menyerahkan dengan senang hati agar bisa dimakan jatah mereka oleh wanita malang ini.
Untungnya, persediaan makanan kami memang sengaja diberikan lebih oleh petugas catering untung jaga-jaga , mengantisipsi kekurangan makanan. Kebijakan dari senior ku untuk memberikan makanan itu pada pendamping wanita malang itu.

                Sebut saja nama wanita malang ini adalah ibu mawar, ibu mawar sering sekali menuju kamar kecil di bagian belakang kabin, ketika ibu mawar berada didalam kamar kecil, saat itulah salah satu pendampingnya sebut saja ibu ratna, menceritakan penyebab sakitnya ibu mawar.

                Ibu mawar adalah seorang  karyawan di salah satu perusahaan besar di kota itu.Beliau menikah dan memiliki empat orang anak. Kemudian bercerai, serta dipisahkan dengan anak-anaknya oleh mertuanya serta suaminya. Karena itulah ibu mawar menjadi depresi dan mulai menunjukkan keanehan. Sudah beberapa tahun beliau tidak melihat anak-anaknya.. miris sekali.
                Percakapan kamipun terhenti ketika ibu mawar keluar dari kamar kecil , dan berdiri tepat di depan ku dan dua rekan kerja ku. Beliau berhenti, dan bertanya padaku
“umur kamu berapa ?”
“23 tahun, buu”
“masih muda sekali, sama seperti anak saya, tapi dia jauh lebih muda, dia baru 17 tahun dan sangat cantik. Dia juga bercita cita ingin menjadi seorang pramugari, tapi sekarang sedang sekolah di malaysia”
“oh ya bu, wahh, hebat ya”
“iya, nanti saya minta nomor telepon kamu ya, biar kamu bisa ajarkan anak saya cara berjalan, cara dandan, dan mengajarkannya banyak hal untuk bisa menjadi pramugari.”
“ohh, iya bu.. pasti”
“lihat saya, saya bisa bernyanyi..” beliau pun bernyanyi serta menggoyangkan tubuhnya,
Aku dan rekan kerja ku sontak tertawa, namun juga sedih melihat hal yang sedang berlangsung saat itu. Miris sekali melihat seorang ibu yang dipisahkan dengan anak-anaknya. Beliau terlihat sangat menyayangi dan membanggakan anaknya. Ya Tuhan, masih ada orang yang tega memisahkan seorang ibu dengan anak-anaknya.
Beberapa saat kemudian, beliau kembali ke tempat duduk nya, dan memanggil ku serta rekan kerja ku secara bergantian. Dikarenakan penerbangan saat itu cukup panjang, maka kami bisa lebih santai, sehingga bisa menemani ibu mawar secara bergantian.
Entah apa yang beliau katakan pada rekan kerjaku, yang pasti saat tiba giliranku yang dipanggil, aku duduk tepat bersebelahan dengan nya. Beliau memulai percakapan yang cukup membuat ku sesak, sedih, dan cukup sulit menahan tangis.

“kamu punya pacar ?”
“tidak bu, “
“iya, bagus, jangan pernah pacaran. Pacaran itu setelah menikah, setelah sah”
“iya bu..”
“kamu tau , saya ini dulu punya pacar, umur 17 tahun. Dan saya terpaksa menikah muda. Lihat sekarang.. saya jadi begini, jangan mau merugikan diri kamu sebagai seorang wanita, karena tidak akan ada yang bertanggung jawab atas diri kamu. Beban dan hukuman duni kamu yang tanggung, di akhirat juga begitu, jadi ya berjalan d jalan yang benar saja”
“iya bu”
“trus alis mata mu kenapa kamu kerok ?”
“ini sengaja bu, biar rapi”
“rapi apanya ? itu namanya haram, kamu tau kan itu haram hukumnya”
“iya bu, nanti saya tidak akan mengulanginya”
“iya , bagus.. trus juga harus kamu ingat, jangan pernah tinggalkan yang lima waktu.. nanti kamu kasih saya nomor telepon kamu, biar saya isikan pulsa, 50 ribu, 100 ribu, berapa mau, saya punya banyak duit. Asalkan jangan tinggalkan sholat”

Dalam hatiku ingin tertawa mendengar kalimat “isi pulsa”, namun juga kagum.. bahwa seorang wanita yang di vonis menderita kelainan jiwa, karena depresi, namun masih mengingat semua hal baik itu.
Tanpa terasa, beberapa saat lagi sudah saatnya mendarat di kota tujuan. Aku bergegas merapikan semua tugas yang memang harus dilakukan , dan menjalan kan prosedur sebelum mendarat.

Begitu pesawat mendarat dan berhenti parkir dengan sempurna, pintu pesawat dibuka, dan satu persatu penumpang turun dengan berbagai ekspresi wajah. Ada yang terlihat bahagia, mungkin karena ingin segera bertemu keluarga, teman dan sahabat. Ada juga yang terlihat tegang , mungin karena akan bertemu klien , dan berbagai ekspresi lainnya. Begitu juga dengan ibu mawar beserta teman-temannya, turun di kota ini . kota dimana akan menjadi tempat perawatan ibu mawar selama masa pemulihan.
Aku dan rekan kerja ku sungguh merasa bangga dan bahagia bisa dipertemukan dengan sosok ibu mawar yang malang, namun memberi banyak arti bagi orang-orang di sekitarnya. Sungguh senyuman kami yang terlihat, menyimpan rasa sedih yang cukup dalam , ikut merasakan kepedihan yang ibu mawar rasakan..
Berharap suatu saat nanti ibu mawar bisa pulih seperti semula, dan segera dipertemukan dengan anak-anaknya. Serta ibu mawar dapat tersenyum menyaksikan anak-anaknya bisa menggapai cita-cita mereka semua..

Monday, March 18, 2013

Aku memanggilnya IBU PERI




Dibalik kaca itu ada seorang wanita yang begitu ramahnya , tersenyum manis padaku. Kami tidak saling mengenal, hanya bertemu saat itu. Beberapa hari kemudian, aku dipertemukan lagi dengan nya di kelas yang sama. 

Dia bernama Veronica Dinar Simatupang..
Dia sebaya saudara sepupuku, dan aku pun memanggilnya "Mbak Vero".
Dia adalah seorang wanita hebat, menurutku.. Kita bertemu di salah satu Airline, dan sama-sama baru bergabung di perusahaan itu sebagai Pramugari.
Mbak Vero punya beberapa kelebihan yang membuatku kagum, serta bangga telah mengenalnya.
Dia punya pengalaman yang menurutku luar biasa, untuk urusan pengalaman sebagai pramugari dia sudah tidak diragukan lagi. Puluhan tahun dia bergelut dengan dunia yang baru beberapa tahun belakangan aku kenal.

Yang membuat ku bahagia serta bangga mengenalnya, bukan hanya karna pengalamannya , namun dia adalah sosok wanita dewasa yang baik hati, peduli , keihklasan terlihat dari pancaran sinar matanya, perlakuannya terhadap sekitar begitu memperlihatkan kepeduliannya dan keihlasannya dalam berbuat kebaikan. Apa salahnya jika dia menyombongkan diri nya, karena memang dia punya sesuatu yang bisa dia sombongkan, NAMUN dia tidak lakukan . Apa salahnya dia bersikap anti terhadap cara dan pergaulan orang pada umumnya, yang kemana-mana harus melawan terik matahari untuk mengantri kereta, angkot, bus. NAMUN dia tidak begitu. Aku teringat ketika untuk pertama kalinya aku mengajaknya naik kereta, namun aku baru tau itu adalah pertama kalinya juga dia naik kereta.

Dia selalu nyaman dengan keadaan apapun, di ajak berpanas-panasan di angkutan umum, dia tersenyum. dan beberapa contoh lainnya, dia tetap tersenyum. Dia menanggalkan semua yang ada di belakangnya, yang dapat memberatkan langkahnya berbaur.

sehingga kini aku memanggilnya dengan sebutan "Ibu Peri / Mami Vero"














Mami Vero memiliki seorang putra , yang biasa dipanggil "Ipiii"
Aubrey Mathew Frans

Ipi adalah harta nya yang paling berharga, nyawa hidupnya, segalanya bagi Mami Vero.

Do'a ku untuk semua orang yang aku cintai, semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kalian. Untuk ku, Untuk kita..

Tetaplah tersenyum "Mami Vero"
*Cium Peluk Buat Ipiii..












Takkan ada yang tahu RAHASIA WAKTU


“Jika kita ingin melakukan sesuatu, maka lakukanlah segera, jangan menundanya hanya karna rasa malas, atau merasa bahwa hal itu dapat dilakukan esok hari”
Susunan kalimat diatas adalah benar adanya, kalimat diatas pernah diucapkan oleh “Ibu Maulina”, Yaa.. Ibu Maulina adalah sosok yang hadir dalam kehidupanku dengan tanpa disengaja.
Saat itu aku sedang duduk di kursi yang memang menjadi tempat keseharianku dalam melayani setiap pelanggan yang akan menggunakan jasa penerbangan salah satu perusahaan penerbangan di Indonesia.
“Mba Ana, ( begitulah aku disapa ), jika suatu saat nanti Mba Ana butuh teman untuk bercerita, atau sharing masalah apapun, hubungi saja ke nmr ini ( dg menyerahkan kartu namanya )”
“Baik bu, terima kasih.. “
Beberapa hari kemudian benarlah aku mendapatkan sebuah masalah dalam pekerjaanku, sehingga aku merasa begitu rapuh dan butuh teman untuk berbagi cerita. Aku yang saat itu benar-benar sendiri, tiba-tiba teringat akan sosok “Ibu Maulina”, dan segeralah aku menghubunginya.
Memang Ibu Maulina yang baik hati, merasa dibutuhkan bukannya angkuh, malah beliau lah yang datang menghampiriku di rumah kost ku yang hanya berukuran beberapa meter.
Berbagi cerita dengannya terasa begitu nyaman, semua uneg-uneg sudah aku sampaikan, semua masalahku sudah diberi solusi yang memang belum pasti berhasil atau tidaknya, namun sudah berhasil membuatku merasa tenang.
Sore itu, untuk menghiburku sekaligus memberikan contoh nyata bahwa aku bukanlah orang yang paling menderita didunia ini karna masalah yang sedang aku hadapi, Beliau mengajakku kesuatu tempat .
“Ana, kita akan kesuatu tempat, dimana tempat ini adalah tempat yang sering sekali saya kunjungi bersama suami ataupun teman saya, saya senang berada disana, nyaman sekali, orang-orang yang berada disanapun sangat ramah, bahkan bisa menghibur saya ketika saya sedih”
Subhanallah, setelah sampai disana.. Saya mengetahui bahwa tempat yang dimaksud dan yang diceritakan Ibu Maulina adalah pinggiran kali di salah satu daerah di jakarta timur. Di sepanjang kali itu terdapat rel kereta api , disanalah hidup beberapa keluarga yang mayoritas telah dibantu oleh Ibu Maulina dan tim nya untuk membuat usaha kecil-kecilan.
“Lihat itu Ana, dia adalah anak lelaki usia 12 th, kakinya diamputasi karna kecelakaan yang dia alami beberapa bulan yang lalu, sebelumnya dia bisa bekerja sebagai pengamen atau pemulung, untuk membantu ekonomi keluarganya, namun semenjak dia cacat, dia tidak bisa berbuat banyak. Ibu anak itu saat ini bekerja di seberang kali ini, membuka warung kecil-kecilan yang menjual makanan kecil serta minuman, yang banyak dibeli oleh para pekerja di sekitar wilayah itu, sementara ayahnya bekerja di persimpangan jalan sana, menjual minuman seperti kopi, the, dll, yang diseduh sendiri. Semuanya dibantu oleh koperasi digereja kami”
Mendengar kalimat terakhir Ibu Maulina, aku tersentak.. Subhanallah, koperasi gereja membantu dengan ikhlas sesama manusia, mereka berusaha menciptakan lapangan kerja untuk orang yang membutuhkan. Jujur aku malu , karna aku sebagai sesama muslim, namun tidak mampu atau mungkin pura-pura tidak mampu berbuat apa-apa.
“Mba Ana, besok saya akan kesebuah tempat lainnya, yang kurang lebih sama seperti tempat ini. Karna saya janji membawakan obat untuk seorang anak yang sedang menderita sakit yang cukup serius, dan saya juga janji akan membawakannya balon, karna dia masih berusia 7 th, dan saya sudah janji sejak beberapa minggu yang lalu, namun saya belum sempat kesana, karna berbagai urusan”
“Oh iya buk, saya boleh ikut lagi ..?”
“Tentu Mba Ana ..”
Keesokan harinya saya dan Ibu Maulina menuju pinggiran kali yang menjadi tempat kedua kunjungan kami.
“Anak itu tinggal bersama ibunya, ayahnya sudah meninggal karna sakit keras beberapa bulan yang lalu”
“saya benar-benar salut akan cara ibu membantu sesama, ingin sekali saya bisa seperti ibu, yang ikhlas dalam membantu manusia lainnya”
Sesampainya kami di tempat tersebut..
“Pak, Bu Haminah yang anaknya sedang sakit waktu itu, yang tinggal di dalam tenda di pinggir kali ini mana ya pak, kok tendanya udah ga’ ada ..? ” Tanya bu Maulina pada seorang bapak yang sedang duduk sambil menghisap rokoknya.
“Ohh, yang anaknya laki-laki itu ya bu ?”
“Iya pak, kemana mereka ?..”
” 2 hari yang lalu mereka disuruh pindah ke kalimantan, imigrasi buk”
Ibu Maulina terpaku dalam diamnya, dia seperti memikirkan sesuatu yang dia sesali.
“Mba Ana, saya benar-benar menyesal sudah menunda kedatangan saya kesini, padahal saya sudah berniat kesini sejak seminggu yang lalu, namun karna sibuk ini itu saya jadi membatalkan niat saya kesini. Ini bisa jadi pelajaran buat saya dan Mba Ana juga, jika ingin melakukan sesuatu saat ini, maka lakukanlah, sebelum itu terlambat. Karna kita tidak pernah tahu waktu akan berbuat apa. Kalau sudah begini, rasanya menyesal sekali, namun menyesali hal ini pun juga percuma. “
Mmhh, perkenalan ku yang tanpa diduga.. Dengan Ibu Maulina, serta pelajaran berharga yang dia berikan contoh nyata..

Kebetulan, Keyakinan, Perasaan


Kebetulan
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, yang ada hanya rencana yang telah dipersiapkan Tuhan dengan waktu dan tempat yang telah beliau tentukan. Manusia terkadang menganggap hal itu kebetulan, karena memang semua hal yang terjadi adalah diluar perkiraan kita sebagai manusia.
Keyakinan
Keyakinan adalah sebuah perasaan mantap mempercayai suatu hal, keyakinan lah yang membuat kita berani melangkah dan mengambil tindakan atas setiap hal yang terjadi. Keyakinan biasanya menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang kita yakini. Jika tidak, mungkin kita masih belum yakin.
Perasaan,
Perasaan adalah hal yang sangat sensitif, karena berkaitan langsung dengan hati. Siapa yang bisa menyalahkan perasaan ? Mungkin kita bisa menyalahkan perasaan, tapi kita tidak berhak untuk itu. Karena perasaan mutlak punya tempat dan kehidupan tersendiri. Selama dia menyimpan segala sesuatu untuk dirinya sendiri, maka biarkan lah perasaan menikmatinya. Biasanya, perasaan yang tulus akan menyesuaikan dengan keadaan. Jika yang terbaik adalah untuk dinikmati sendiri, maka dia akan bertahan dalam diamnya..
“Kamu dimana Key ?”
“Aku di lantai dasar, didepan Mawar shop”
“Baiklah, aku kesana ya”
“Yhaa..”
Keyara, menunggu kedatangan Rama . Laki-laki yang dia kenal tanpa sengaja di dunia maya. Laki-laki yang baik hati, sering memberi nasehat tanpa terkesan mengajari. Selalu mensupport Keyara secara tidak langsung. Laki-laki yang baik, perhatian dan tidak sombong. Itu yang ditangkap Keyara dari beberapa kali percakapan mereka melalu blackberry messenger. Percakapan setiap hari ? Tentu tidak, bisa dihitung dengan jari untuk frekuensi percakapan mereka.
Mungkin lebih tepatnya, ketika Keyara membutuhkan support dari orang-orang terdekat yang tidak dia dapatkan Rama selalu tiba-tiba muncul dengan nasehat dan support yang Keyara butuhkan.
Pernah suatu ketika, Keyara menangis tersedu karena teringan masa lalu nya yang memang tidak menyenangkan untuk dikenang, Rama muncul dengan kata-kata nasehat serta supportnya yang sangat berarti bagi Keyara. Satu kalimat yang masih dikenang Keyara hingga saat ini , yang mungkin menjadi alasan Keyara menaruh simpati terhadap sosok Rama yang tidak dikenalnya secara langsung.
“Walaupun kita tidak pernah bertemu, berjanjilah padaku, bahwa kamu tidak akan menangis lagi Key, berjanjilah tidak akan ada airmata itu lagi”
Keyara sebagai wanita biasa, sebagai wanita mayoritas yang menggunakan perasaan disetiap kesempatan, merasa tergugah hatinya atas perkataan Rama yang benar-benar tidak diduga. Dan saat ini, hanya butuh beberapa menit untuk Keyara melihat langsung sosok Rama berada didepan matanya.
“Dimana yah Rama, mmhhh..” Keyara menunggu dengan perasaan campur aduk, penasaran, takut , malu, semua datang bersamaan. Keyara sibuk dengan perasaannya sendiri, pikirannya terawang-awang, mencoba mengembalikan semuanya agar tidak menerawang dengan pemikiran-pemikiran yang membuatnya gelisah.
Keyara membuang pandangannya jauh ke ujung pintu masuk mall itu, tidak dia dapati sosok Rama, hingga dia membalikkan wajahnya dan terdiam, mendapati sosok Rama yang pernah dia lihat wajahnya di display picture blackberry messenger Rama. Rama yang datang mengenakan kaos hitam menghampirinya.
“Heii, Rama”
“Keyara”
“Udah lama yah Key ? Maaf yah aku telat, tadi macet banget “
“Iya nggak apa-apa kok, aku juga baru nyampe”
“Mmhh, hayoo mau kemana kita, blom makan kan ?”
“Iya , blom.. Kamu udah ?”
” Juga blom”
“Ya udah, kita ke atas yah”
“Yuk”
Entahlah, tidak biasanya Keyara seperti saat ini, senyum, senyum dan tersenyum, wajahnya merekah, sesekali tersenyum , dan mencoba menahan ketawa. Tawa bahagia, yaa, tawa bahagia . Dan entah apa penyebabnya. Yang dia tau dia bahagia, Keyara bahagia mendapati senyuman pertama Rama saat bertatapan muka dengannya.
“Mmhh, tadi kesini pake apa Key ?”
“Aku pake kereta , turun di gambir, lalu naik busway dari gambir ke harmoni, kemudian transit arah grogol”
“Wahh, jauh juga ya “
“Iya, udah terbiasa, jadi nggak masalah”
Keyara adalah tipe wanita cuek, yang jika sudah menemukan seseorang yang membuatnya nyaman , maka sifat cuek nya akan berubah drastis . Biasanya Keyara hanya mau bertemu orang-orang yang dikenalnya di tempat yang tidak jauh untuk dia datangi, tapi kali ini berbeda. Keyara sama sekali tidak mempermasalahkan jarak. Kembali lagi , mungkin karena Rama yang sudah terlanjur membuatnya bersimpati.
“Gimana kerjaannya ? Udah mulai terbang lagi blom ?
“Blom ni, lagi nunggu proses aja. Karena baru selesai training pesawat baru”
“Mmhh, iya.. Enak yah liburnya lama”
“Hahaa, ya.. Kerjaannya tidur mulu”
Rama adalah seorang penerbang di salah satu airline di Indonesia, sama seperti sosok Zulfikar yang pernah hadir dimasa lalu Keyara dengan cerita yang berbeda.
“Kalo kamu lagi libur yah Key ?”
“Mmhh, aku setiap hari juga libur, nggak kerja kan ya”
“Hahaa, oh iya.. Aku lupa”
“Mmhh, mau makan apa Key ?”
“Terserah aja aku sih”
“Kamu yang sering kesini, hayo mau makan apa”
“Mmhh, justru karna kamu jarang kesini, jd kamu pilih yah mau makan apa”
Salah tingkah , sesekali tersipu malu, membuat obrolan mereka melupakan bahwa mereka sudah berjalan memutari food court untuk yang kedua kalinya.
“Mmhh, empek-empek kayanya enak Key”
“Iya yah, enak kayanya”
“Mau ?”
“Bolehlah”
“Itu disana, yuk”
” Iya”
“Mau duduk dimana Key ?”
“Disini aja boleh”
“Ya udah disini aja, aku pesen dulu yah “
“Iya..”
“Komplit kan ? “
“Komplit “
Keyara duduk sendiri di meja food court berbentuk bundar dengan 3 kursi di sekeliling nya. Keyara memperlihatkan wajah sumringah , dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Sesekali dia menatap Rama yang sedang mengantri untuk memesan empek-empek .
“Rama seseorang yang baik, terlihat dari caranya berbicara yang sejauh ini selalu berkata lembut, berbicara dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, dan ramah”
Sesaat kemudian Rama datang dengan dua porsi empek-empek dengan nampan merah , sama seperti warna kesukaan Keyara.
“Mau minum apa key ?”
“Air mineral aja , makasi ya “
Keyara memindahkan piring empek-empek itu dari nampan merah . Sambil menunggu Rama kembali membawa minuman.
“Selamat makan Key..”
“Selamat makan “
Susana makan siang dengan menu empek-empek, diwarnai percakapan tentang segala hal , dibumbui tawa renyah sesekali, dan senyuman yang masih terlihat jelas di wajah keduanya.
Tanpa terasa empek-empek habis dilahap Keyara dan Rama, dan akhirnya mereka beranjak meninggalkan kursi dan meja bundar itu.
“Mmhh, mau kemana lagi Key ?”
“Nggak ada si, aku ga ada rencana kemana-mana”
“Kamu punya urusan lain mungkin ?”
“Nggak ada kok”
“Mmh, ya udah Key, mau pulang aja ? Aku anterin “
“Pulang ? Boleh, tapi aku pake kereta aja”
“Nggak Key, nggak boleh, nggak baik, aku anterin aja”
“Tapi kan jauh, kamu harus balik lagi nanti , jauh”
“Nggak kok, deket tau lewat tol”
Yahh kok pulang sih “ucap Keyara dalam hati” bilang donk mau nonton gitu atau apalah, menghabiskan waktu sampai sore. Masa udah pulang aja . Bibir Keyara bungkam, kalimat itu tak terucap.
Keyara dan Rama menuruni satu lantai, dan akhirnya terucap dari bibir Rama ..
“Apa mau nonton Key ?”
Tanpa membuag waktu dan berpikir panjang, Keyara menjawab cepat ..
“Boleh, kita ke atas lagi dong yah”
“Iya, kita ke atas lagi”
Detik berjalan semaunya, hingga menemukan menit yang pada akhirnya dia bentuk menjadi jam. Satu jam, dua jam berlalu, film nya selesai, dan mereka beranjak meninggalkan studio.
“Bagus juga yah film nya”
“Iya, seru, ada yah penjara kaya gitu, kaya kampung gitu”
“Hahaa, iyaa”
“Mmhh, Key.. Kamu aku anter pulang yah ?”
“Nggak, jangan, kejauhan, “
“Nggak apa-apa”
Sepanjang perjalanan pulang, Keyara dan Rama berbagi cerita , tentang semua yang dianggap menarik untuk diperbincangkan. Entah kebetulan atauh tidak, yang jelas tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua telah di rencanakan Tuhan.
Rama adalah mantan kekasih sahabat Keyara, yang bernama Sharyl. Keyara mengetahui hal itu semenjak beberapa waktu setelah berbincang melalu blackberry messenger dengan Rama. Dan sepanjang perjalanan pulang itupun mereka sesekali membahas masa lalu Rama dan Sharyl yang terdengar bahagia, namun berakhir sedikit tidak menyenangkan.
Tanpa terasa, mobil Rama sudah mendekati tempat kost Keyara,
“Didepan sebelah kiri”
“Mmhh, disini.. ? “
“Iya, disini, Makasi ya buat hari ini, hati-hati di jalan”
“Iya, makasi juga”
Entahlah apa yang Keyara rasakan saat ini, senyumannya masih bertahan di wajahnya, sambil menyalakan blackberry yang tanpa disadari telah lama kehabisan batre .
Ketika blackberry dinyalakan, banyak pesan masuk dari “ari”, sosok laki-laki yang sebulan terakhir mengisi hari-hari Keyara, dengan perhatian, dan segala leluconnya yang selalu membuat Keyara tertawa bahagia.
“No news though”
Dan untuk pertama kalinya Keyara mengabaikan “Ari”, Keyara sibuk dengan senyuman bahagianya ..
Terima kasih Rama, telah membuat hari ini berwarna, semoga suatu saat kita dipertemukan lagi.
“Pertemuan pertama menyisakan rasa penasaran, pertemuan kedua menyisakan rasa rindu, Dan aku tidak mau merindu”
Biarlah waktu yang menjawab semuanya, Tuhan pasti menjalankan rencananya sesuai dengan yang telah beliau rencanakan. Di tempat dan waktu yang hanya beliau saja yang mengetahuinya.
Yang pasti di dunia ini tidak ada yang namanya KEBETULAN, di dunia ini hanya butuh KEYAKINAN, dan keyakinan itu biasanya di support penuh oleh PERASAAN.