Penerbangan malam ini sama
seperti penerbangan sebelumnya, dimana aku beserta rekan kerja lainnya harus
rela tidak tidur untuk menjalankan tugas sebagai pramugari di salah satu
perusahaan penerbangan.
“Mbak, nanti ada special passenger
ya. Seorang wanita, berusia 33 tahun. Memiliki kelainan jiwa, namun dapat
dipastikan tidak akan mengganggu selama penerbangan berlangsung, karena sudah
mendapat ijin dan surat keterangan dari dokter yang menanganinya, serta sudah
di cek oleh dokter bandara”
“baik, saya akan membicarakan ini
pada kapten,” jawab senior ku..
Maka dengan surat dari dokter dan
atas pertimbangan kapten , penumpang yang dimaksud dapat diberangkatkan dengan
prosedur yang sudah ada.
“Passengers coming” demikian informasi
yang diberikan oleh senior ku. Maka segeralah dua orang rekan kerja ku
mengambil posisi boarding di tengah kabin pesawat. Kebetulan saat itu aku
bertugas untuk berdiri di pintu masuk pesawat bagian belakang sambil memberi
salam pada penumpang yang masuk ke pesawat melalui pintu belakang. Melihat penumpang
pertamaku saat itu, langsung saja pikiranku melayang pada penumpang yang
dimaksudkan oleh petugas darat kami. Benar saja, seorang wanita berusia 33
tahun itu masuk ke pesawat, dengan mengenakan celana berwarna hitam dan atasan
coklat, serta memakai kacamata hitam. Beliau tersenyum padaku, seperti tidak
ada yang salah pada dirinya.
Segera aku menghampiri petugas
darat yang berjalan tepat dibelakang wanita itu.
“mas, itu penumpangnya ?”
“iya mbak, pendampingnya ada empat orang”
“baiklah, terima kasih”
Proses boarding saat itu beralan
lancar, hingga penumpang dinyatakan komplit, dan akhirnya kapten memberikan
command untuk segera menutup pintu pesawat.
Setelah pintu pesawat ditutup,
kami semua menjalankan semua prosedur
seperti biasanya, hingga pesawat lepas landas dan lampu tanda kenakan sabuk
pengaman dipadamkan, sebagai tanda bahwa kami dan penumpang boleh melakukan
aktifitas untuk service, penumpang yang ingin ke kamarkecil , dan sebagainya.
Sekali dua kali aku melemparkan
pandangan pada wanita malang itu, dia pun tersenyum dan berkata “kamu cantik,
sama seperti anak saya”. Kalimat yang sama dia ucapkan saat aku atau rekan
kerjaku lainnya lewat di depannya.
Kami memperlakukan wanita malang
itu sama seperti memperlakukan penumpang lainnya, karena memang sepertinya
tidak ada yang salah padanya. Hanya saja beliau sering bertingkah seperti
anak-anak ketika meminta permen setiap kali kami lewat didepannya,. Pada saat
aku dan rekan ku membagikan makanan utama saat itu, beliau langsung
mengeluarkan kalimat “saya mau makan” , sehingga kami pun tidak perlu menunggu
untuk memberikan makanannya, segera kami berikan makanan untuknya, walaupun
memang saat itu belum sampai pada barisan tempat duduknya.
Beberapa saat setelah itu, kami
pun sampai di barisan tempat duduk wanita tersebut, bermaksud untuk membagikan
makanan pada pendampingnya yang berjumlah empat orang. Dan kalian tahu apa yang
terjadi ? dia merebut makanan itu dan segera membuka tempat makanan untuk
dinikmatinya. Pendampingnya yang tidak lain adalah tetangganya, pun menyerahkan
dengan senang hati agar bisa dimakan jatah mereka oleh wanita malang ini.
Untungnya, persediaan makanan
kami memang sengaja diberikan lebih oleh petugas catering untung jaga-jaga ,
mengantisipsi kekurangan makanan. Kebijakan dari senior ku untuk memberikan
makanan itu pada pendamping wanita malang itu.
Sebut saja
nama wanita malang ini adalah ibu mawar, ibu mawar sering sekali menuju kamar
kecil di bagian belakang kabin, ketika ibu mawar berada didalam kamar kecil,
saat itulah salah satu pendampingnya sebut saja ibu ratna, menceritakan
penyebab sakitnya ibu mawar.
Ibu mawar
adalah seorang karyawan di salah satu
perusahaan besar di kota itu.Beliau menikah dan memiliki empat orang anak. Kemudian
bercerai, serta dipisahkan dengan anak-anaknya oleh mertuanya serta suaminya. Karena
itulah ibu mawar menjadi depresi dan mulai menunjukkan keanehan. Sudah beberapa
tahun beliau tidak melihat anak-anaknya.. miris sekali.
Percakapan
kamipun terhenti ketika ibu mawar keluar dari kamar kecil , dan berdiri tepat
di depan ku dan dua rekan kerja ku. Beliau berhenti, dan bertanya padaku
“umur kamu berapa ?”
“23 tahun, buu”
“masih muda sekali, sama seperti anak saya, tapi dia jauh
lebih muda, dia baru 17 tahun dan sangat cantik. Dia juga bercita cita ingin
menjadi seorang pramugari, tapi sekarang sedang sekolah di malaysia”
“oh ya bu, wahh, hebat ya”
“iya, nanti saya minta nomor telepon kamu ya, biar kamu bisa
ajarkan anak saya cara berjalan, cara dandan, dan mengajarkannya banyak hal
untuk bisa menjadi pramugari.”
“ohh, iya bu.. pasti”
“lihat saya, saya bisa bernyanyi..” beliau pun bernyanyi
serta menggoyangkan tubuhnya,
Aku dan rekan kerja ku sontak tertawa, namun juga sedih
melihat hal yang sedang berlangsung saat itu. Miris sekali melihat seorang ibu
yang dipisahkan dengan anak-anaknya. Beliau terlihat sangat menyayangi dan
membanggakan anaknya. Ya Tuhan, masih ada orang yang tega memisahkan seorang
ibu dengan anak-anaknya.
Beberapa saat kemudian, beliau kembali ke tempat duduk nya,
dan memanggil ku serta rekan kerja ku secara bergantian. Dikarenakan penerbangan
saat itu cukup panjang, maka kami bisa lebih santai, sehingga bisa menemani ibu
mawar secara bergantian.
Entah apa yang beliau katakan pada rekan kerjaku, yang pasti
saat tiba giliranku yang dipanggil, aku duduk tepat bersebelahan dengan nya. Beliau
memulai percakapan yang cukup membuat ku sesak, sedih, dan cukup sulit menahan
tangis.
“kamu punya pacar ?”
“tidak bu, “
“iya, bagus, jangan pernah pacaran. Pacaran itu setelah
menikah, setelah sah”
“iya bu..”
“kamu tau , saya ini dulu punya pacar, umur 17 tahun. Dan saya
terpaksa menikah muda. Lihat sekarang.. saya jadi begini, jangan mau merugikan
diri kamu sebagai seorang wanita, karena tidak akan ada yang bertanggung jawab
atas diri kamu. Beban dan hukuman duni kamu yang tanggung, di akhirat juga
begitu, jadi ya berjalan d jalan yang benar saja”
“iya bu”
“trus alis mata mu kenapa kamu kerok ?”
“ini sengaja bu, biar rapi”
“rapi apanya ? itu namanya haram, kamu tau kan itu haram
hukumnya”
“iya bu, nanti saya tidak akan mengulanginya”
“iya , bagus.. trus juga harus kamu ingat, jangan pernah
tinggalkan yang lima waktu.. nanti kamu kasih saya nomor telepon kamu, biar
saya isikan pulsa, 50 ribu, 100 ribu, berapa mau, saya punya banyak duit. Asalkan
jangan tinggalkan sholat”
Dalam hatiku ingin tertawa mendengar kalimat “isi pulsa”,
namun juga kagum.. bahwa seorang wanita yang di vonis menderita kelainan jiwa,
karena depresi, namun masih mengingat semua hal baik itu.
Tanpa terasa, beberapa saat lagi sudah saatnya mendarat di
kota tujuan. Aku bergegas merapikan semua tugas yang memang harus dilakukan ,
dan menjalan kan prosedur sebelum mendarat.
Begitu pesawat mendarat dan berhenti parkir dengan sempurna,
pintu pesawat dibuka, dan satu persatu penumpang turun dengan berbagai ekspresi
wajah. Ada yang terlihat bahagia, mungkin karena ingin segera bertemu keluarga,
teman dan sahabat. Ada juga yang terlihat tegang , mungin karena akan bertemu
klien , dan berbagai ekspresi lainnya. Begitu juga dengan ibu mawar beserta
teman-temannya, turun di kota ini . kota dimana akan menjadi tempat perawatan
ibu mawar selama masa pemulihan.
Aku dan rekan kerja ku sungguh merasa bangga dan bahagia
bisa dipertemukan dengan sosok ibu mawar yang malang, namun memberi banyak arti
bagi orang-orang di sekitarnya. Sungguh senyuman kami yang terlihat, menyimpan
rasa sedih yang cukup dalam , ikut merasakan kepedihan yang ibu mawar rasakan..
Berharap suatu saat nanti ibu mawar bisa pulih seperti
semula, dan segera dipertemukan dengan anak-anaknya. Serta ibu mawar dapat
tersenyum menyaksikan anak-anaknya bisa menggapai cita-cita mereka semua..
1 comment:
"Yaa Allah,... Subhanallah,..Beliau masih bisa mengingatkan untuk Shalat Fardhu 'ain..."
Semoga Allah memeliharakan kita semua,,.. Amiin Yaa Rabb',,,
Post a Comment